Header Ads

Budaya Sebagai Aset Pariwisata

Dr. Bambang Suharto, M.M.Par. saat membawakan materi.

Pusat Studi Pariwisata (Puspar) adalah jantung kegiatan kepariwisataan di Universitas Flores (Uniflor) yang terus melakukan berbagai upaya demi pengembangan, pembinaan, dan promosi dunia pariwisata baik di Kabupaten Ende maupun di Pulau Flores. Selain menggali informasi potensi wisata baru, Puspar juga melakukan kegiatan seminar, membentuk dan bekerjasama dengan kelompok sadar wisata (pokdarwis), hingga rencana membangun Kampung Ata Ende yang ramah anak.

Pada Rabu (11/4/2018), bertempat di Aula Lantai 3 Fakultas Teknologi Informasi, pukul 09.00, Puspar menggelar Seminar Nasional yang menghadirkan Dr. Bambang Suharto M.M.Par. dengan materi yang sama dengan tajuk seminar yaitu Melestarikan Budaya Lokal Sebagai Aset Pariwisata, dan pemateri kedua Yohanes Y. W. Kean, S.Pd., M.Pd., dengan materi Kabupaten Ende Menuju Destinasi Pariwisata Berkelanjutan. Seminar yang dimoderatori Asehari Senjahari Rawe, S.E., M.Pd., itu dihadiri oleh 250-an peserta dari kalangan mahasiswa, Kepala Balai TNK Agustinus Sitepu, Manager Operasional DMO Flores Andreas Dhenameda, Perwakilan Pengelola Pantai Koa Simplisius Sani, Perwakilan Pokdarwis Arubara Taurat Abdurahman, Perwakilan RMC Detusoko Ovyn Wangge. Turut hadir Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan Fransiskus Korosando, S.Pd., M.Pd., dan Wakil Rektor Bidang Kerjasama Murdaningsih, S.P., M.P.

Dalam sambutannya sekaligus membuka kegiatan seminar, Murdaningsih mengatakan bahwa budaya adalah nyawa dan harus dijaga bersama. Untuk mewujudkan mimpi Uniflor dapat sebagai sentral informasi pariwisata di Flores, langkah yang sudah dilakukan adalah mengajukan pendirian Fakultas Pariwisata dan mendirikan Pusat Studi Parwisata supaya bisa menjembatani pengembangan, pembinaan, dan informasi budaya di Flores.

Sementara itu, dalam paparan materinya tentang budaya lokal yang dapat menjadi aset pariwisata, Bambang menyinggung tentang digital toursm dimana promosi pariwisata kini gencar dilakukan melalui media internet. Menurutnya, budaya dari semua daerah di Indonesia bisa mengglobal sangat kuat dengan menggunakan digital toursm. Lebih lanjut Bambang menjelaskan tentang anak muda di luar negeri yang semakin giat belajar budaya. Berbeda dengan anak muda di Indonesia yang sering mengabaikan budaya sendiri dan justru lebih menggandrungi budaya yang datang dari luar. Mahasiswa diajak untuk dapat menggunakan meda sosial untuk mempromosikan budaya lokal seperti pakaian tradisional, atraksi tradisional, cinderamata bermotif lokal, dan lain sebagainya.(2teh).

1 komentar:

  1. Bicara tentang Ende dan Flores secara menyeluruh maka kita sedang membahas sebuah peradapan dan pariwista yang mendunia,

    Soal peradapan, siapa yang tidak kenal Sukarno. Pendiri bangsa itu dan Ende bagaikan dua keping mata uang, satu dan tidak terpisahkan. Lihat kembali catatan sejarah jika saya salah.

    Lantas menyoal tentang pariwisata, siapa yang tidak tahu danau kelimutu. Abadi dalam uang kertas 5000 zaman dulu menjadi catatan sejarah pariwisata Ende yang tidak boleh dilupakan.

    Oleh karena itu secara pribadi saya sangat mendukung upaya untuk mensosialisasikan pariwisata Ende dan Flores secara menyeluruh melalui berbagai kecanggihan teknologi saat ini.

    Tetap semangat teman-teman, sukses selalu. salam damai

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.